Judul : Rahasia Sri Paus
Pengarang : Marini – Deseberg
Penerbit : Indira
Tebal : 48 hal + 2 cover
Rahasia Sri Paus
Seorang perempuan bernama Magdalena Catalan dibakar di atas api karena dituduh merayu para pendeta dan bersetubuh dengan paus. Paus yang bersetubuh dengan wanita itu memiliki sikap yang liberal, sehingga ada beberapa pihak yang tidak suka dengan dirinya, salah satunya ialah Kardinal Trebaldi yang berasal dari keluarga Latal yang bersumpah untuk membunuh paus karena mereka merasa tertindas oleh kebijakan paus dan mereka juga ingin merebut tahta kepausan untuk keluarga Latal. Sebelum meninggal, perempuan tersebut melahirkan seorang bayi laki-laki dari paus yang kemudian diberi nama Scorpion. Scorpion memiliki cap iblis berupa gambar kalajengking di pundaknya.
Scorpion dijatuhi eksekusi karena dia lahir tidak dikehendaki dan gereja malu dengan peristiwa yang terjadi pada paus mereka. Oleh sebab itu, Scorpion ingin ditenggelamkan di danau di dekat Roma, akan tetapi ada seorang misterius yang menyelamatkannya. Tentara biarawan mencoba membunuh Scorpion, hal demikian juga dilakukan oleh Kardinal Terbaldi yang ingin merebut kekuasaan paus, karena jika Scorpion tidak mati, maka tahta paus akan dimiliki Scorpion.
Kardinal Trebadil memerintahkan seorang penyihir perempuan untuk meracuni Scorpion, akan tetapi Scorpion dapat selamat dan menemukan obat penawarnya. Suatu hari, Scorpion menyelinap di ruang kerja paus, ia menemukan dokumen rahasia kepausan yang isinya tentang ibunya, Magdalena Catalan. Scorpion mencoba menemui paus dan mendesaknya untuk bercerita tentang Magdalena Catalan. Kebetulan saat itu, sri paus sedang bersantai di sebuah restoran dengan teman-temannya. Scorpion menemui paus dan dia mencari tahu tentang dokumen rahasia yang sebagiannya sengaja disobek. Paus sengaja menyobek sebagian dokumen tersebut, karena beliau tidak ingin peristiwa tentang Magdalena Catalan terus diingat oleh publik. Paus mengakui bahwa dulu, beliau suka dengan Magdalena Catalan karena kecantikan, kelemah-lembutan dan kebaikannya, sehingga mereka akhirnya melakukan hubungan intim yang menghasilkan seorang bayi yaitu Scorpion. Perbincangan antara Scorpion dengan paus belum selesai, secara tiba-tiba seorang utusan dari Kardinal Terbadil menyerang mereka. Selain itu juga ada seorang lelaki tua yang menyerang mereka, lelaki itu juga ingin membunuh paus karena dia merasa dihina karena diusir dari Roma. Ketika itu juga, paus meninggal karena ditusuk oleh lelaki tua itu. Di sisi lain, terjadi pertempuran antara Scorpion dengan utusan Kardinal Terbadil. Scorpion bertarung karena tidak terima dengan kematian ayahnya yaitu paus, tetapi utusan Kardinal Terbadil bertarung karena dia ingin kekuasan kepausan jatuh di tangan keluarga Latal.
Ahkirnya rahasia kepausan terbongkar. Publik sekarang tahu bahwa Scorpion adalah anak dari paus yang selama ini mereka hormati. Selanjutnya, Scorpion mendapat dukungan dari banyak orang termasuk tentara biarawan. Di akhir cerita, tentara biarawan bersama Scorpion bertempur dengan utusan Kardinal Terbadil. Kardinal ingin merebut tahta kepausan, akan tetapi Scorpion ingin membalaskan kematian ayahnya.
Refleksi
Buku tentang Rahasia Sri Paus memang tidak seperti buku yang menceritakan tentang perang seperti Perang Bubat, Gajah Mada dan sebagainya. Akan tetapi, di dalam buku : Rahasia Sri Paus, saya menemukan sebuah motivasi mengapa seseorang melakukan perang atau pertempuran. Sebuah peperangan berawal dari sebuah keinginan untuk menaklukkan yang musuh sehingga dapat memperlihatkan betapa besar kekuatan yang dimiliki. Selain itu, peperangan juga berawal dari keinginan untuk berkuasa. Dengan kata lain, nafsu duniawi menyebabkan sebuah perpecahan dan juga peperangan.
Berbeda dengan perang yang ada di dalam buku : Perang Suci dalam Islam, di dalam buku tersebut, perang menjadi suatu kewajiban bagi kaum laki-laki yang dalam keadaan tertindas. Mereka dituntut untuk membalas jika mereka disakiti, akan tetapi mereka tidak boleh melebihi dengan serangan mereka, dengan kata lain harus seimbang.
Keluar dari zona perang, sekarang saya masuk dalam pasukan, akan tetapi saya tidak ingin berperang seperti cerita di atas. Sebab saya tidak ingin menjadi pasukan yang menyerang dengan haus akan darah, tetapi saya ingin menjadi pasukan bagi Kristus yang menyatakan cinta kasihNya bagi semua manusia. Dan semoga apa yang menjadi usaha saya dapat memuliakan nama-Nya.
-Agustinus Dwi Riyanto-